Sedikit saja Lupakan kekacauan itu…

Lita berdiri pada suatu tempat..

Berdiri penuh lelah terngiang2 dengan suatu kejadian…

Ia ketukkan kepala itu…

Bermainlah ia dengan segala pikirannya…

Melangkahkan kaki dalam suatu angannya,

Kembali ia mengarungi,

Bagaimana kekacauan itu muncul sedang ia sendiri yang sedang merencanakannya secara tidak langsung..

 

Bisikkan terakhir membuatnya terhentak,

Kemblilah pada kebenaran itu..

Sedang Ia pun mengapit dahinya dengan jarinya,

Kebenaran apa yang kau maksud?

Berseteru ia dalam suatu perbincangan hangat dengan dirinya…

 

Entahlah apakah bisikkan itu datang dari mana, ia tak perduli..

Yang ia perdulikan,

Bagaimana mengatasi kekacauan yang sedang ia buat,

Mencari akal,

Membuka lembaran2 rahasia yang selalu ia tulis pada setiap lembaran kertas yang ia miliki,

Tak juga ia temui,

Membaca adalah referensi terbaik untuknya,

Hanya saja sayang, butuh waktu untuk semua itu,

Ia tak berfikir untuk menamatkan satu buah buku saja,

Karna baginya untuk saat ini waktunya belum tepat..

 

Fiiiiuuuuuuhhh kembali ia berlari dengan segala perenungannya,

Bertanya pada siapapun dan tak ada yang bisa menjawab,

Atau bahkan tak berani menjawab..

“Hentikan langkah itu”,

Seseorang berteriak dengan kerasnya..

Tak sedikitpun ia menyukai dengan segala gertakan perintah yang diperuntukkan dirinya,

Semakin kencang ia melangkah,  semakin keras peringatan itu..

Tak ubah sedikitpun kerasnya..

 

Seketika peringatan itu tak terdengar,

Barulah ia berhenti…

Berkonfrontasi adalah hal biasa bagi dirinya,

Untuk dirinya atau dengan siapa saja.

Sedikit memanjakan diri pada keegoisan,

Pembuktian eksistensi diri bahwa itulah dirinya…

 

Yeaahhh,, Perhentian langkah itu dibuatlah semasa sebanding dengan kejayaannya,

1tahun melangkah dengan kemajuan,

1tahun melangkah dengan perhentiannya..

Cukup baginya melakukan suatu “Pembalasan”

Atas keseriusannya dengan peristirahatannya,

Namun imbangnya disayangkan,

Hasilnya 1 sama, hingga tak ada sisa sedikitpun pada kebaikan atau keburukan…

 

Tak mengapalah ia pikir,

Yang penting kepuasan batin dan lahiriah ia penuhi,

Dengan segala eksplorasi yang ia buat,

Memberikan suatu gambaran kebebasan dalam menilai,

Apakah itu kebaikan dengan Keburukan,

melihat efek dari sisi lain yang bertentangan dengan kata “Kebiasaan”

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s