Sesuatu yang menyerap Energi

Pernahkah kamu rasakan energi yang kamu simpan, kamu tabung habis dalam waktu yang tidak direncanakan?

Pernahkah kamu bayangkan bagaimana mendapatkan energi yang ditampung ternyata hilang menguap begitu saja.

Apa kamu pernah bayangkan, bagaimana sesuatu yang ga pernah kamu inginkan, datang lagi sebagai sandingan perjalanan hidup?

Pernahkan kamu bayangkan, hal-hal yang tak pernah kamu inginkan, merusak seluruh isi hati, isi otak semua dibuat luluh lantah berkeping berserakan.

Suatu saat itu mungkin akan terjadi pada hal yang tak pernah kamu inginkan,
Lambungkan mimpi setinggi kamu bisa.
Menari dibawah hujan, menghirup udara segar, bahkan tetap menikmati teriknya matahari meski itu akan membakar tubuhmu.

Tapi itu semua tiba2 menggelegar, satu peristiwa yang membuat kamu harus lebih survive dengan batas penerimaan diri, dengan batas penolakan diri, dengan batasan alasan yang tak pernah ingin kamu dengar.

Menolak sejauh kamu bisa,
Merusak semampu kamu bisa lakukan,
Mengubah sesuatu menjadi ketersia-siaan.
Putus asa yang berkepanjangan.

Merusak moral diri,
Merusak paradigma diri,
Mengubah pandangan menjadi satu sisi.
Apa pernah kamu rasakan?

Betapa hancurnya suatu harapan,
Betawa kecewanya pd suatu keadaan,
Patahkan arang pembakar semangat,
Membuat diri buta akan segala kemungkinan.

Sesuatu yang belum usai,
Sesuatu yang tetap harus dijalani,
Iya atau Tidak
Menerima atau Menolak,

Tetaplah lelah yang kamu dapatkan,
Jika kamu tak pernah mengikhlaskan, merelakan, meridhokan segala ketentuan yang Allah berikan.

Qta tak tau ujian apa yang akan diberikan.
Apakah itu dengan kesenangan, kesedihan atau bahkan dengan kesempurnaan sebuah pemikiran.

Tiadalah yang bisa menciptakan suatu kejadian selain kita pasrah terhadap-Nya?

Apakah yang akan terjadi kemudian?
Kejutankah, kebahagiaankah, kesedihankah,
Itu semua hanya bergantung pada apa yang kita fikirkan,
Tuhan yang menentukan,
Qta yang mengendalikan.

Kendali dibawah kontrol diri,
Dibawah batasan diri.
Tak adalah yang kekal selamanya,
Selain 3 hal yang disebutkan sebagai :
1. Ilmu yang betmanfaat.
2. Amalan yang ikhlas
3. Doa anak shaleh terhadap kedua orang tuanya.

Lantas apa arti dari semua itu,
Yang datang silih berganti,
Pergi sesuka hati,
Penerimaan, Penolakan terhadap suatu kejadian peristiwa selain hanya mengambil hikmah dan pelajaran dari setiap detilnya.

Memperlihatkan kebesaran-Nya,
Memperlihatkan kekuasaan-Nya.
Lantas manusia sempurna pun hanya akan menjadi satu titik debu diladang pasir yang terhampar luasnya.

Sombong dr yang kecil, apalah gunanya?
Bukankah Allah benar2 membenci orang yang sombong juga lalai?

Hibur diri dengan kerendahan,
Senangkan diri dengan rasa syukur.
Nikmati hidup dengan rasa iba pd orang2 yg lebih kesulitan dibanding hidup kita yang masih bisa dibilang berkecukupan.

Lupa diri menjadi penyakit hati yang paling kotor,
Lupa siapa kita,
Lupa apa tujuan kita,
Lupa akan makna kehidupan nyata yang akan kekal dialam sana,
Dan paling bahaya lupa siapa Tuhan kita serta lupa apa yang diinginkan-Nya.

Kehidupan yang hanya senda gurau,
Kehidupan yang sementara,
Permainan yang melenakan suatu iman tanpa ilmu,
Melupakan hakikat jiwa pada Sang Kuasa.
Apalah guna semua itu, jika tak pernah kita mampu menjawab setiap pertanyaan, menyelesaikan setiap permasalahan.

Lupakanlah sejenak keegoisan diri,
Lupakan sejenak kepentingan diri,
Lupakan sejenal keinginan nafsu diri, apakah itu melalui harta, tahta bahkan sesuatu yg harus dilaksanakan tanpa suatu bekal yang harus dijadikan sebagai pedoman hidup.
Jangan biarkan hampa,
Jangan biarkan kosong,
Mereka semua menuntut untuk diveri, dikasihi, dilindungi juga diberi setiap asupnlan untuk berfungsi pada hal yang seharusnya.

Tiadalah sesuatu melainkan dibawah pengaturan-Nya.
Jangan lepaskan semua doa, harapan, usaha hanya menjadi hiburan anekdot ditengah kebosongan kota, kerumetan persoalan juga hanya sebagai peneman dalam kebimbangan atau kegalauan hati.

Biarkan doa terucap setulus hati,
Biarkan usaha menjadi pengorbanan yang bernilai tiada habisnya,
Juga harapan sebagai obor dalam perjalanan dalam kegelapan.

Semangat jiwa, hati, pikiran yang tersakiti menjadi penyemangat jauh dalam diri yang paling berguna juga bermanfaat, sebagai pukulan hati untuk terus berikhtiar dan istikomah dalam setiap pencarian.

Wabillahitaufik walhidayah, wassalamuakum warahmatullahiwabarakatu…

Jadi kek ceramah aja..haha :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s