Bertanya pada rumput.

Hei rumput marahkah kamu jika kamu diinjak setelah mencoba menghibur?

Maukah kamu dibuang ketika kamu mendekat?

Maukah kamu dibakar ketika kamu sejuk?

 

Hei rumput Kesalkah kamu ketika angin berhembus,

Aku jadikan kamu sebagai penghalang?

Hei rumput maukah kamu aku salahkan ketika ada sesuatu yg tak sedap dipandang?

 

Hei rumput maukah kamu aku acuhkan ketika kamu tersenyum?

Aku diamkan ketika kamu bicara,

Dan aku tak terima ketika kamu memberi?

 

Hei rumput, bisakah kamu tak menolak apa yang aku perintahkan?

Tak mengelak ketika aku beri saran,

Tak mengguggah ketika aku memberi salam?

 

Hei rumput taukah kamu jika aku kesal dekat dengan kamu?

Tahukah rumput jika aku hanya ingin sendiri ditempat ini?

Tahukah kamu bahwa aku ingin berdiri kokoh tanpa ada yg menemani?

 

Hai rumput tahukah kamu aku ini pohon besar yang bisa saja mengguncangka batangku untuk menghancurkan kamu?

Hai rumput kenapa kau selalu menolak pada apa yg aku inginkan?

Hai rumput kenapa kau tidak tumbuh saja ditempat yang lebih indah, sejuk juga nyaman, dari pada berada didekatku,

Yang dari jauh pun tak seorangpun melihat kamu?

 

Hai rumput jawablah pertanyaanku itu,

Kenapa dan kenapa?

Hai rumput kenapa kau tak memilih menjadi pohon daripada menjadi rumput kecil yang tak pernah diharapkan?

Hai rumput kenapa kau selalu ada dalam semak belukar?

hei rumput mengapa kau tak tumbuh saja ditanah gersang, tandus yang tak pernah hidup?

Itu kan memberikan keleluasaan mu untuk bernapas?

 

Hai rumput kenapa kau memilih tumbuh untuk tetap berada disampingku?

 

Jawab sang rumput :

Hei pohon tinggi besar, angkuh juga hebat,

Hei pohon yang memiliki kesempurnaan dalam fungsi struktur

Hei pohon yang selalu berdiri kokoh juga menyendiri,

Taukah kamu kenapa aku berada disini?

 

Jika kau tak menganggap aku ada itu tak mengapa,

Tak menganggap aku berguna juga tak mengapa,

Tak menoleh pada raga aku yg kecil jg ringan,

Aku ada disini karna aku hanya ingin menemanimu,

Menghiburmu,

Melihatmu berkembang,

Juga melindungi kamu dari pengganggu pada akarmu,

Hei pohon yang kuat,

Tahukah kamu siapa yang akan menahan pada gangguan dasar yang akan merusak akarmu?

Merusak tempat berdirimu?

Jika kamu tak pernah merasa aku berharga tak mengapa,

Setidaknya aku telah mencoba apa yang aku bisa,

Mengarahkan apa yang aku punya dengan niat manfaat,

Bukan hanya pada keluhan pada kesempurnaan,

Mendebat apa yang Tuhan berikan,

Menolak syukur dari apa yang Tuhan berikan,

Serta tak melihat sisi indah dari hal lain disekitarmu.

Apa kau tak menyesal?

 

Tak melihat begitu banyak keindahan didepan mata?

Tak melihat kesejukan pada apa yang dipandang?

Tak melihat pada tanda2 kebesaran Tuhan?

 

Semut bergotong royong meraih remah dalam tubuhmu,

Burung berkicau pada dahanmu,

Dan Manusia mengambil manfaat buahmu?

Apa kau tak mengerti bahwa apa yang kau beri itu merupakan sebuah kebaikan?

Yang kau tak sadari bahwa dalam setiap tubuhmu merupakan kunci suplemen bagi makhluk lain?

 

Bisakah kau tak mengeluhkan mengapa aku ada?

Mengapa kamu hidup dan bertanya kapan aku mati?

Sedang dalam takdirnya semua akan ada pada masanya.

Nikmati, Syukuri, apa yang kau miliki saat ini,

Yang terasa atau tidak,

Yang terlihat atau tidak,

Yang terdengar atau tidak?

Taukah kamu bahwa semua itu demi kebaikanmu, jika kamu mau mengambil pelajaran darinya?

Mengambil setiap hikmah dari apa yang diciptakan,

Menerima apa yang telah dianugrahkan.

 

Wahai makhluk yang merasa diri benar, angkuh juga sombong,

Sadarkah kamu?

 

by Dieni Mulyasari (Notes) on Sunday, 2 September 2012 at 09:58

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s