Mencoba Memahami dari pada Mengerti.

Mencoba Memahami daripada Mengerti. Seolah tak ada bedanya, Seolah hanya gurauan seseorang yang berkata tentang suatu kebenaran kemutlakan.

 

Mutlak, keharusan, Kewajiban, Kenyataan yang tak bisa diubah, Itu hanya sebuah pandangan. Berhenti dalam suatu benak dengan keangkuhan.

 

Menjelma menjadi sesorang yang meninggi bila ditinggikan, Sungguh kesombongan yang tiada pernah disadari. Seolah bisa bicara dengan suatu keindahan dengan isi kekosongan.Itu hampa, ngambang dan memang gak jelas.

 

Berhenti dengan sebuah kata “Tekanan” bagi orang yang terbiasa tanpa “Paksaan”. Berhenti mengucap suatu kata “Paksaan” dengan kata “Keharusan” atau bahkan lebih baik dengan kata “Ujian” atau bahkan memang dengan kesabaran orang menyatakan “Inilah sebuah jalan / Rencana Tuhan”. Tak ada sebenarnya permainan kata, Itu hanya sebuah ilusi yang menyatakan akan suatu hal, Bukan berupa hanya semboyan keagungan keindahan, dan sejenis rupanya.

 

Mempelajari sesuatu untuk dipahami bukan memaksakan untuk terus selalu ingin dimengerti. Mencoba memberi arti lebih ketimbang dengan kebutuhan suatu “Pengakuan” yang sebenarnya bisa datang dengan suatu kepribadian.

 

Mengubah apa yang menjadi dasar diambang suatu penindasan, Tertendang, Terlempar, tanpa ada batas suatu jurang pemisahan. Memberikan suatu kepercayaan seutuhnya, Sepenuhnya hanya menjadi sebuah daging yang berkembang pada suatu tulang yang rapuh, Menguatkan suatu landasan atau basis tertinggi,

Ketimbang mengoleskan kata dengan sebuah “Anti” yang berlebihan.

 

Menyakiti tanpa disadari, Melukai tanpa diketahui, Semua hanya berarti pada sebuah keangkuhan, Mengokohkan diri pada suatu peradaban, Bahwa “Aku” lah sang “Aku”

 

Sedikit menjijikan dengan “Aku” nya “Aku”

Sedang dia tak pernah tau siapa “Aku”

Menindas tanpa menyadari suatu kesalahan, Menjadi belenggu bagi diri sendiri tanpa pengembangan. Mereka berfikir bahwa itulah yang mereka inginkan, Padahal bukan itu yang mereka butuhkan, Ada titik bertolak belakang dimana diam menjadi kesalahan, Dan bicara menjadi suatu keangkuhan.

 

Adakah yang menyadarkan selain diri sendiri yang ingin tersadarkan??

 

by Dieni Mulyasari (Notes) on Sunday, August 12, 2012 at 12:54am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s