Bagai Punuk Merindukan Bulan.

Sinta terkulai lemas tak berdaya, Ia berlari entah kemana ia ingin berlari..

Tak ada satu tempat yang mampu menaunginya.

Ia memohon suatu perlindungan pada sang pencipta,

Ketika keadaan keruh tak tersisa.

 

Kala malam kan tiba, Ia terseguk dengan berderai air mata,

Entah berapa lama waktu dilalui dengan kesedihan,

Yang tiada sendu ia padamkan..

Ia bertanya “Sampai kapankah semua ini kan berakhir?”

 

Suatu ketika bisikan itu tak terelakkan,

Ia tak terpedaya, dan tak mau terbentuk oleh waktu.

Intuisi yang terlalu kuat,

Padahal kebenaran atau keabsahan belum jelas mencerminkkan tiadanya kesalahan.

 

Suatu yang tabu,

Berharap pada sesuatu yang sempurna,

Kala dimana semua berlalu tanpa berleha..

 

Ia merenungkan apakah nasib akan diterkam masa,

Atau suatu masa dapat ditaklukan dengan dunia?

 

Manakah suatu pilihan?

Tiadalah yang baik dengan segala kesedihan, tanpa suatu perubahan..

 

Alampun mendengar apa yang kita inginkan.

Jika semua keinginan berada dalam suatu lubuk yang terhalang.

Tiada yang dapat menghalangi,

ketika Tuhan mengatakan boleh untuk apa yang kita inginkan…

 

Tuhan yang tak pernah tidur,

membangunkan daya khayal yang terlalu tinggi.

Orang tak pernah menyangka atau hanya mengira itu hanya sebuah kegilaan semata.

 

Tiada yang perduli.

Mereka hanya melihat pada apa yang terlihat,

Bukan yang tersirat.

Sungguh buta penglihatannya…

 

Perkira yang dipenuhi dengan tanya,

Akankah semua pertanyaan kan terjawab juga?

Waktu yang menentukan,

Tiada yang bisa dipaksakan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s