Kemarahan

Ku lempar tubuh ini semakin keras..

Kujatuhkan diri dengan tanpa harapan.

Penuh kemarahan.

betapa tinggi keangkuhan..

 

Ok perubahan itu kenapa sungguh dibenci.

karna memang akan menjebak aku dalam sangkar maut sendiri.

Kemudian akan menjatuhkan dan menarik diri aku sendiri sesuka hati.

 

Tiada yang tau.

hanya melihat suatu perubahan yang terlambau jauh disalahartikan.

Semakin ku tak perduli.

Lebih mengutamakan nafsu diri untuk membalas semua kebencian.

 

Belum pernah mengalami kebencian yang berulang2 mesti dihadapi?

Kambing hitam yang menjadi alasan.

Bodohnya dengan terjebak oleh rentang waktu dan memang lebih mau untuk berhenti dari pada melanjutkan.

 

Kembali bercerita. mati enggan hidup pun tak mau.

Dan selalu bertanya kapan semua itu akan berakhir.

Menanti keterasingan cepat pergi.

Dan titik balik pada diri akan kembali.

 

Diluar konteks arti apa yang sebenarnya.

Makna diri yang secara harfiah lebih sulit diutarakan.

ketimbang memendam diri seolah kebahagiaan.

padahal ada suatu pilihan untuk terus mampu bermain peran.

 

Tapi terlalu benci dengan kebohongan.

Dan bodohnya orang itu dengan tidak tau maluya semakin senang dengan keadaan..

Sial..Masa suram terus hinggap.

Coba berdiri lantas duduk kembali.

Coba terbangun dan tetap akan kembali tertidur.

 

Entah kapan kemarahan itu akan termaafkan.

kata orang sih dengan mudah saja ikhlaskan.

Sial. Makan tu omongan lu.

Maafkan. Emang gampang memaafkan?

 

Pasrahkan.

Sial..

Apa yang dipasrahkan,

Semua yang ada diri dipasrahkan.

Keenakan situ menikmati apa yang diusahakan.

 

Ahk solusi dikandang dengan penuh suram. Gak tau malu untuk terus bertahan.

Ingin Pergi tapi dililit tali.

benar saja hanya menunggu mati apa cukup untuk waktu yang diberi.

Pengalihan fokus masih belum bisa,

Selama setan masih membentang dari arah dekat untuk terus membenci yang tiada pernah termaafkan.

 

Seolah itu takdir yang diberikan.

Shiit.

Takdir.

Terlalu rendah otak untuk memasrahkan segala berdasarkan takdir.

Bodohnya orang yang memiliki kewenangan selalu memaksakan dan memenangkan.

Sial manjakan saja terus,

Dan seharusnya itu semua mampu membuat untuk lebih dari yang dia pikir.

 

Haaaa lelah memikirkan kebencian.

Itu semua hanya omong kosong belaka.

Entahlah.

Takkan bersih hati seseorang jika masih ada benci.

Tak kupikir baik itu meski memang benar.

Rasakan saja sendiri.

Masih untuk tidak berlari untuk mematikan diri..haha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s