Berharap pada ‘Makhluk’ itu Bikin Sakit.

Judulnya provokatif sekali..

Udah biasa sih disebut sebagai provokator..

Gak Apa2 juga sih jadi provokator yang saling mengingatkan ketimbang provokator pembawa keburukan.

Sejauh track record yang dilakukan semua berkembang meski hal yang diprovokasi kadang dibilang terlalu frontal. -Gak perdulilah, yang penting point perubahan nya lebih tercapai..haha

Egois apa egois, bukan point penting yang mau dibahas.

 

Balik lagi sama judulnya “Berharap pada ‘Makhluk’ itu bikin sakit”

Memang konteksnya terlihat meluas..

Bayangkan makhluk aja itu pasti besar,

Makhluk itu kan macem2.

Makhluk hidup, makhluk mati..Ada ya?

Entahlah lebih tepat makhluk yang berwujud dan tidak berwujud kalau lihat fenomena saat ini yang merambah perdukunan pada semua aspek..Halah politik aja pake dukun apa lagi hal remeh temhnya ya??

 

Ok bukan itu inti topiknya, bergeser lagi pada sesuatu yang lebih spesifik.

Makhluk yang dimaksud adalah manusia untuk point ini.

Siapa sih yang ga terbiasa bergantung pada manusia..

Katakanlah jebakan bahwa manusia tidak bisa hidup sendiri.

Kata “Sendiri” Ini ujungnya kemana ya?

Apakah manusia bergantung pada Manusia lagi??

Toh manusia sama2 “Makhluk yang diciptakan” ngapain juga digantungkan?

Kita bisa, mungkin yang lain ga bisa,

Itu cuma point untuk saling melengkapi.

 

Tapi pada dasarnya bergantung seharusnya pada sesuatu yang lebih tinggi.

Itu yang cukup menjadi dasar.

Manusia tetaplah manusia.

Hidup dan Mati,

Sehat dan Sakit,

Lapang dan Sempit,

Kaya dan Miskin,

Muda dan Tua.

Patutnya untuk mampu bersyukur atas setiap yang terjadi,

Apakah itu suatu ujian atau kasih sayang dari Yang Maha Menciptakan untuk menguji diri atau mengingatkan diri “Siapakah kita?”

 

Toh mau ditarik kemanapun, sehebat apapun, Sekeren apapun, Kita tetep manusia..

Mau sejaya apapun, Sekaya apapun, Sepandai apapun,

Kalau Sang Pencipta Berkehendak untuk kita “Menunda Kemenangan”, “Menunda segala sesuatu”

Mungkin ada maksud tersembunyi,

Entah rencananya lebih baik atau memang sesuatu yang kita agungkan dan kita tunggu itu gak baik buat kita kelak.

kita  gak pernah tau, bagaimana takdir memang sudah ditentukan.

 

Betapa bebalnya orang yang gak percaya takdir.

“Bahwa takdir bisa diubah, Takdir kita juga yang menentukan”

Betapa sombong dan angkuhnya manusia kaya gitu.

Yupz takdir memang kita mampu berusaha untuk mengubahnya..

Jalan yang dilalui lebih tepatnya.

Tapi kalau sesuatu harus dicapai pada apa yang tercatat, Mau apa dikata?

Kita tetap tak bisa berbuat apa2..

Bukan maksud mengecilkan hati untuk berputus asa..

Betapa lemahnya diri jika mudah untuk berputus asa.

Toh kita tetap harus percaya bahwa kita mendapatkan sesuatu sesuai dengan usahan juga sesuai dengan apa yang telah ditentukan.

 

Percaya semua sudah mengatur,

lebih baik ketimbang berkeras hati untuk mewujudkan sesuatu.

bayangkan jika sesuatu yang sangat diingin2kan ternyata belum baik menjadi milik kita,

Apa mungkin frustasi akan menghampiri?

Jelas lah mudah rasa kecewa menghampiri.

Ya sudah daripada melelahkan diri atau meratapi diri,

Bukankah lebih baik dan lebih bijak untuk tetap mensyukuri?

 

Kemudian korelasi apa yang menyebabkan sakit jika bergantung pada manusia?

Manusia sama2 diatur sama Yang Menciptakan,

Manusia dibutuhkan memang untuk saling mengingatkan,

Dimana saat jalan kita sedang berkelok-kelok dan mengalami hambatan,

Anugrah, Keajaiban dan Petunjuk kadang gak selalu langsung menghampiri pada diri.

Mungkin Sang Pencipta menciptakan jalan keluar melalui orang lain,

Tapi sesuatu yang tepat dan tidak tepat kembali pada keyakinan “Apakah ini petunjuk dari-Nya atau malah petunjuk dari setan?”

Cuma ada 2 piliha bukan?

Kita kembali  pada jalan yang benar atau kita tersesatkan semakin jauh pada jalan-Nya?

Cara pendekatannya ya kita mendekati pada poros yang seharusnya.

kalau kita terus menjauh dari “Panggilan2nya” Semakin sulit juga kita menentukan apakah tanda2 itu benar atau tidak.

 

Masih sulit untuk dipahami?

Coba fikirkan dan gambarkan saja sesuatu yang Sakit, siapakah yang akan menyembuhkan?

Bukan dokter ato Psikolog atau dukun kan?

Mereka sama2 manusia kok, buat apa juga berharap sama mereka?

Itu semua hanya sebagai perantara.

Pada akhirnya semua akan kembali Pada Yang Maha Menciptakan bukan?

Simple..really…really Simple..

Sadarkan diri aja setiap perubahan itu pasti dan hanya untuk mengembalikan kita untuk mengingatkan.

“Siapakah Diri kita?” Just it and then Setelah tahu dasarnya, apakah yang harus kita lakukan?

Next point..

Tetap Semangat membaca semua tanda2😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s